Gambar Seijūrō Akashi Kuroko no Basket Sang Kapten Berkepribadian Ganda

Loading...

Gambar Seijūrō Akashi Kuroko no Basket Sang Kapten Berkepribadian Ganda – Di balik postur tubuhnya yang tergolong paling pendek dibandingkan anggota tim Generation of Miracles lainnya. Sosoknya merupakan seorang kapten tim, yang mampu membawa Generation of Miracles berada di puncak kejayaan selama 3 tahun berturut – turut. Dirinya pula lah salah seorang yang paling berjasa, dalam perjalanan karier Kuroko sebagai seorang atlet basket.

Seijūrō Akashi merupakan seorang mantan kapten tim, Generation of Miracle klub basket SMP Teikō. Kini dirinya bermain sebagai seorang point guard, dan juga seorang kapten tim pada klub basket SMA Rakuzan. Akashi sendiri merupakan seorang anak yang terlahir di keluarga yang kaya raya. Ia merupakan anak satu – satunya, sekaligus pewaris tunggal dari bisnis keluarganya. Oleh sebab itu, sejak kecil Akashi dididik dan diberikan kewajiban oleh sang ayah untuk menjadi seorang yang sukses dalam melakukan berbagai hal. Saat itu, satu – satunya orang yang mendukung dirinya, hanyalah sang ibu. Sosok yang selalu menemaninya, saat Akashi bermain basket di kala waktu senggangnya. Akan tetapi, saat Akashi masih kelas 5 SD, sang ibu ternyata harus mengghadapi ajal. Meninggalnya sang ibu disebabkan karena sakit yang dideritanya. Kepergiaan sang ibu, lantas membuat sang ayah menjadi semakin keras dalam mendidik Akashi. Dirinya semakin dituntut untuk menjadi seorang, yang mampu menguasai berbagai keahlian dalam berbagai bidang. Berbagai tuntutan tersebut, lantas membuat Akashi tumbuh dalam tekanan dan tidak bisa merasakan kebahagiaan. Setelah lulus SD, ia kemudian melanjutkan sekolah di SMP Teikō dan bergabung dengan klub basket. Seperti anggota Generation of Miracles lainnya, Akashi juga merupakan salah satu orang yang langsung terpilih sebagai salah satu pemain 1st string di tahun pertamanya. Suatu hari, Akashi bertemu dengan Kuroko, dan menyadari potensi besar yang dimilikinya. Ia kemudian mendorong Kuroroko untuk terus berlatih dengan giat dan mengembangkan kemampuan uniknya tersebut. Tiga bulan setelah pertemuan keduaanya, Akashi kemudian memberikan sebuah tes kepada Kuroko untuk dapat tergabung di dalam 1st string. Secara mengejutkan Kuroko dapat lolos melewati tes tersebut, dan menjadi bagian dari tim inti.

Dahulu sebelum dirinya menjadi seorang kapten tim, Nijimura lah yang orang memegang jabatan tersebut. Namun kemudian, suatu hari Nijimura berbicara kepada sang pelatih untuk menjadikan Akashi sebagai seorang kapten. Dengan persetujuaan dari sang pelatih, Nijimura kemudian menyerahkan jabatan seorang kapten tim kepada Akashi. Pengumuman tentang ditunjuknya Akashi sebagai kapten tim, sontak mengejutkan semua orang. Banyak dari mereka tidak menyangka, seorang Akashi bisa menjadi seorang kapten. Dengan terbentuknya Generation of Miracle, ditahun pertamanya mereka dapat dengan mudah memenangkan berbagai pertandingan di kejuaraan nasional hingga mencapai babak final. Namun saat di final dan berhadapan dengan SMP Kamata, mereka sempat mengalami kesulitan disebabkan oleh pemain mereka yang dikenal sebagai “kembar genius”. Generation of Miracle yang saat itu hampir mengalami kekalahan, seketika dapat merubah keadaan dengan keputusan Akashi yang memberikan Kuroko kesempatan untuk ikut terlibat dalam pertandingan. Tak diduga, berkat Kuroko pada akhirnya Generation of Miracles, dapat menjuarai kejuaraan basket SMP tingkat nasional untuk pertama kalinya. Lewat momen tersebut lah, kemampuan Kuroko pada akhirnya dapat benar – benar diakui oleh seluruh anggota tim Generation of Miracle. Kuroko pun kemudian dikenal sebagai sang “bayangan” pemain ke-6 dari Generation of Miracle. Keesokan harinya usai pertandingan tersebut, Kuroko kemudian mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Akashi karena telah memberikannya kesempatan untuk bermain dalam pertandingan dan untuk semua hal yang dilakukannya selama ini. Bila bukan karena Akashi, Kuroko berpikir dirinya tidak akan berada pada posisinya seperti sekarang ini. Tak lama usai kemenangan pertama mereka di kejuaraan nasional, secara tiba – tiba sang pelatih jatuh sakit dan posisinya kemudian digantikan oleh Sanada yang sebelumnya menjabat sebagai asistennya. Pergantiaan tersebut, menciptakan berbagai perubahan yang menggoyahkan kesolidan tim Generation of Miracles. Kemampuan mereka yang semakin hari terus berkembang dan bertambah kuat, membuat para anggotanya lambat laun berubah menjadi arogan dan menjadi tidak “terkendali”. Di tahun ketiga “kekacauan” tersebut berada di titik puncak. Setelah kemenang Generation of Miracles untuk ketiga kalinya selama 3 tahun berturut – turut di kejuaraan nasional. Kuroko mulai mempertanyakan apa sebenarnya arti dari “kemenangan” pada masing – masing anggota tim. Kuroko yang merasa Generation of Miracles tak lagi merupakan sebuah tim yang solid dan penuh kekacauan, memutuskan untuk keluar dari tim. Sampai pada di hari kelulusan, Akashi dan anggota Generation of Miracles lainnya, kemudian membuat sumpah untuk saling berkompetisi di kejuaraan basket tingkat SMA. Untuk membuktikan siapakah yang terkuat diantara mereka.gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-1 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-2gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-4 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-5 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-6 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-7 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-8 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-9 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-10 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-11 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-12

Loading...

gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-13 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-14 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-15 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-16 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-17 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-18 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-19 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-20 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-21 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-22 gambar-seijuro-akashi-kuroko-no-basket-sang-kapten-berkepribadiaan-ganda-24Saat pertama kemunculannya, Akashi ditampilkan sebagai pribadi yang sangat mengintimidasi, namun juga rendah hati. Sebagai seorang pemimpin, ia melakukan tugasnya dengan baik. Dimana terbukti, seluruh anggota Generation of Miracle menaruh rasa hormat yang tinggi dan mengikuti perintahnya sebagai seorang kapten tim. Akashi sendiri, seorang yang menghormati rekan satu timnya, dan percaya dengan kemampuan mereka sebagai seorang individu. Akashi juga merupakan seorang yang sangat peduli dan menghargai fansnya, yang selalu memberikan dukungan kepadannya. Sejak kecil didikan sang ayah, telah membentuk Akashi menjadi pribadi dengan mental seorang “pemenang”. Sehingga pada akhirnya ia percaya bahwa, seorang “pemenang” bisa mendapatkan apapun di dalam hidupnya, sementara kekalahan hanya akan menjadikannya seorang pecundang. Saat masih bersekolah di SMP Teikō, Akashi mulai menunjukan gejala psikologis, yang membuatnya memiliki “kepribadiaan ganda”. Kepribadiaan ini sendiri sangat bertolak belakangan dari kepribadiaan aslinya. Ia menjadi seorang yang sangat arogan dan sangat tidak toleran kepada siapapun yang berani menentang atau meremehkan dirinya. Baginya, hanya orang – orang yang mendapatkan rasa hormatnya lah yang boleh menatap matanya. Ia bahkan menjadi sosok yang begitu sadis terhadap rekan satu timnya. Akashi pernah mengancam akan mencungkil bola mata rekan satu timnya, bila tim basket SMA Rakuza, kalah dalam kejuaraan Winter Cup. Kepribadiaan ini lambat laun semakin mendominasi kepribadiaan asli dari Akashi. Kepribadiaan ini pun membuatnya dapat mengaktifkan kemampuan spesialnya, yang dikenal sebagai Emperor Eye. Alasan utama mengapa ia bisa memiliki kepribadiaan ganda, adalah karena rasa takut dan tekanan hidup yang memaksanya untuk selalu menjadi “sempurna” dalam segala hal.

Sebagai seorang atlet, Akashi dikenal dengan kecepatan dan penguasaan bolanya yang sangat mengagumkan. Akashi merupakan pemain yang dinilai cerdas dan mahir dalam menyusun sebuah taktik. Ketika bertanding, Akashi “merancang” berbagai hal secara matang. Hal tersebut pun terbukti di salah satu pertandingan, dimana semuanya berjalan “tepat” sesuai apa yang direncanakannya sejak awal. Akashi sendiri merupakan satu – satunya anggota tim Generation of Miracles, yang “membangunkan” kemampuannya secara paksa. Dimana kemampuan tersebut “terbangun” saat dirinya berada pada keadaan yang sangat mendesak dan hampir mengalami sebuah kekalahan. Dengan tekanan tersebut ia dapat mengaktifkan kemampuan uniknya yang dikenal sebagai Emperor Eyes. Sebagai tanda Akashi telah mengaktifkan teknik ini, yaitu warna bola matanya yang memiliki warna berbeda satu sama lain. Dimana mata kananya berwarna merah, sedangkan mata kirinya berwarna orange. Kemampuan ini sendiri dapat membuat mata Akashi mampu “melihat”, mengobservasi dan memprediksi gerak – gerik lawan saat bertanding. Menurut Murasakibara, Emperor Eyes membuat Akashi dapat “melihat” bahkan hingga ke detail terkecil sekalipun dari pergerakan lawan, termasuk hal – hal yang sulit dipercaya seperti pernafasan, detak jantung, keringat, kontraksi otot dan lain – lain. Berkat hal tersebut, secara sempurna ia dapat menghalau segala pergerakan lawan, dan mensabotase takti apapun yang coba diekesekusinya. Atau secara singkat dapat dikatakan, Akashi dapat “melihat masa depan dan memprediksi apapun gerakana lawan selanjutnya”. Seperti Aomine, Akashi pun salah satu pemain yang memiliki kemampuan untuk dapat “masuk” dalam keadaan Zone sesuai dengan keinginannya. Dalam keadaan Zone, Akashi menjadi lawan yanng seolah tidak terkalahankan. Bahkan diketahui dalam keadaan Zone, Akashi bahkan lebih cepat dibandingkan dengan Kagami yang juga dalam keadaan Zone. Hal ini salah satunya disebabkan ia mengkombinasikan kemampuan ini, dengan Emperor Eye miliknya, sehingga kemampuannya dapat meningkat berkali – kali lipat.

Akashi mungkin sempat mengalami peperang batin, dengan “dirinya” yang lain. Namun pada akhirnya Akashi membuktikan, dirinya sanggup mengalahkan “monster” di dalam dirinya. Kekalahan yang untuk pertama kali ia rasakan, mengajarkannya tentang rasa “sakit” sekaligus menjadi sebuah “awal baru” bagi perjalanan kariernya sebagai seorang atlet.