Gambar Shura Akame Ga Kill! Sang Ahli Manipulasi Ruang dan Waktu

Loading...

Gambar Shura Akame Ga Kill! Sang Ahli Manipulasi Ruang dan Waktu – Merupakan anak dari seorang yang paling berpengaruh, di pemerintahan ibu kota kerajaan. Dirinya tumbuh menjadi seorang sosok yang arogan dan berbuat semaunya. Menggunakan kekuasaan sang ayah, untuk menciptakan keonaran hanya untuk kesenangan pribadinya.

Sosok Shura adalah anak kandung dari perdana menteri Honest. Shura merupakan pribadi yang kejam dan sadis dalam berprilaku. Arogan dan sangat percaya diri, merupakan sifat Shura lainnya, yang dominan di dirinya. Ia sangat menikmati mengusik ketenangan warga sipil, dan membunuh mereka hanya untuk kesenangan. Ia sendiri merupakan sosok yang memperlakukan wanita dengan kasar dan memandang mereka semua tak lebih dari sebuah “mainan” pemuas hasrat seksual baginya. Saat menemukan wanita yang menurutnya menarik, ia akan menunjukannya dengan menjilat bibirnya untuk menggoda mereka. Shura sendiri sangat meninkmati metode penyiksaan, untuk mendapatkan berbagai informasi yang ia inginkan dari musuhnya. Sebagai seorang anak, Shura bersikap sangat manja dimana segala keinginannya harus dituruti. Terlebih dengan jabatan yang dipegang oleh sang ayah sebagai seorang perdana menteri. Seolah memberikan Shura kebebasan hak untuk bersikap semaunya dan melakukan apapun sesuai dengan keinginannya. Shura sendiri akan cepat marah, saat keinginannya tidak terpenuhi. Ataupun saat suatu hal, tidak berjalan sesuai yang ia rencanakan. Shura cenderung sosok, yang akan menggunakan cara – cara kekerasan. Kepada siapa saja, yang berani menghalanginya untuk mendapatakan atau melakukan apa yang ia inginkan. Shura sendiri, merasa sangat khawatir bila ia tak dapat menyenangkan atau memenuhi keiginan sang ayah. Dan ia akan merasa sangat cemas, bila ia mulai kehilangan kepercayaan sang ayah padanya. Selain kepada sang ayah, ia sama sekali tidak menunjukan rasa hormatnya kepada siapapun. Memperlakukan orang lain layaknya “sampah” tak berharga. Seolah hanya dirinya lah yang berharga dan patut dihormati.

Shura sempat meninggalkan ibukota kerjaan, dan berkelanan ke seluruh penjuru negeri. Namun suatu hari Shura memutuskan untuk kembali ke ibukota. Dan kembali menciptakan keonaran di ibukota. Shura merupakan dalang di balik munculnya monster buas, yang berkeliaran menyerang berbagai desa di dalam wilayah kerajaan. Dirinya dengan sengaja melepaskan monster buas yang diciptakan oleh Dr. Stylish di laboratoriumnya. Monster buas tersebut, sengaja dilepaskannya untuk menciptakan teror di ibukota, membuat banyak nyawa melayang karenannya. Namun bagi Shura, semua itu hanyalah caranya untuk bersenang – senang. Dapat melihat rakyat menderita dan sengsara, merupakan suatu “hiburan” yang menyenangkan baginya. Sekembalinya ia ke ibukota, Shura mendapatkan tugas dari ayahnya sang perdana menteri, untuk mempertahankan ketertiban masyarakat di ibukota dari pemberontakan bersama pasukan yang dipimpinya. Hal ini juga merupakan suatu ujian yang diberikan sang ayah padanya, sebagai ajang baginya untuk membuktikan diri. Apakah dirinya layak atau tidak, untuk menjadi penerusnya sebagai seorang perdana menteri, dikemudian hari.gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-1 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-2 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-3 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-4 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-5 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-6 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-7gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-9

Loading...

gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-10 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-11 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-12 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-13 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-14 gambar-shura-akame-ga-kill-sang-ahli-manipulasi-ruang-dan-waktu-15Dalam bertarung, Shura merupakan pribadi arogan yang sangat percaya diri dengan kemampuan yang dimilikinya. Hal ini membuatnya sangat menyukai pertarungan satu lawan satu. Ia bahkan sangat benci saat orang lain ikut campur dalam pertarungan yang sedang dilakukannya. Shura sendiri menguasai berbagai teknik bela diri, yang membuatnya sangat ahli dalam pertarungan tangan kosong. Berkat teknik bela diri yang dikuasainya, membuat kekuatan fisik dan serangannya menjadi kuat walau tanpa menggunakan sebuah senjata. Selain bertarung dengan tangan kosong, Shura juga menggunakan sebuah senjata berjenis pisau, untuk melukai lawannya. Shura memiliki sebuah Teigu, bernama Shambhala. Sebuah Teigu dengan kemampuan suportif, yang tergolong sangat unik. Shambhala merupakan sebuah Teigu, yang dapat digunakan untuk memanipulasi ruang dan waktu. Kemampuan tersebut memungkinkan Shura untuk melakukan teleportasi dan berpindah tempat sesuka hati dalam waktu sekejap. Namun, kemampuan ini sendiri memiliki sebuah batasan dimana Shura harus menandai terlebih dahulu suatu area, jika ia ingin dapat melakukan teleportasi menuju area tersebut. Kemampuan Teleportasi Shura, selain dapat digunakannya pada diri sendiri, juga dapat dipergunakannya untuk memindahakan orang lain ke suatu tempat. Shura sendiri bahkan dapat berteleportasi di udara, selama ia telah menandai area tersebut. Ia bahkan terlihat dapat menandai, seluruh wilayah istana dan menciptakan suatu area yang sangat luas untuk melakukan teleportasi. Shura dapat berteleportasi kemanapun yang ia inginkan selama bertarung, selama masih dalam area cakupan yang telah ditandainya. Kemampuan spesial dari Teigu Shambhala ini, memungkinkan Shura untuk dapat menteleportasi seseorang, dan memperangkapnya dalam ruang hampa, dimana waktu tak lagi ada. Mereka yang terperangkap tidak akan pernah dapat kembali lagi. Dengan kemampuan ini, sama saja Shura menghapuskan keberadaan mereka dari muka bumi.

Sifat arogan Shura, yang pada akhirnya membawanya pada kematian. Impiannya untuk menduduki tahta kerajaan dan mengubah dunia menjadi tidak membosankan, harus lenyap bersama dengan haknya yang memperlakukan kehidupan orang lain seperti sebuah “mainan”.